Indonesia bisa Punya Duplikat Al Azhar Mesir

Desi senang sekali karena sekarang dia dan teman-teman sekelasnya dapat belajar dengan nyaman tanpa rasa khawatir. Maklum, dulu kala datang hujan besar, atap kelas mereka kerap bocor, hingga kemudian menyebabkan madrasah mereka roboh.

Meski dengan kondisi memprihatinkan, tak menyurutkan niat Desi dan teman-temannya untuk mempelajari Al Quran di Madrasah Al Hidayah Kecamatan Talegong Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Agak mempertaruhkan nyawa memang. Namun para santri cilik itu tetap bersemangat untuk belajar.

Selengkapnya

Perkenalkan ini Ajo...

Ajo Pratama atau yang sering disapa Ucok, kini bisa bekerja lagi di desanya. Sebelumnya ia mencari nafkah di Tangerang dengan berjualan. Sejak mengetahui di desanya terdapat lapangan pekerjaan sebagai petani di kebun wakaf produktif, diapun langsung pulang kampung yang berlokasi di Desa Curugciung, Cikeusik Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Ucok merupakan anak sulung dari 3 bersaudara. Ia mengaku ingin membantu perekonomian keluarganya dan ingin membantu adik-adiknya bersekolah. “Alhamdulillah di desa udah ada lagi pekerjaan, jadi saya balik lagi kesini. Mudah-mudahan saya bisa membantu kebutuhan keluarga dan bisa membantu biaya sekolah kedua adik saya. Saya mah cuma lulusan SMP, karena waktu itu gak punya biaya buat lanjut sekolah,” ungkap Ucok di sela-sela pekerjaannya menyiram tanaman lada hitam.

Selengkapnya

ajo
Potensi wakaf di Indonesia mencapai
Rp180 triliun. Namun baru Rp400 miliar saja yang dimanfaatkan. Bayangkan bila dana tersebut diproduktifkan secara optimal. Maka bukan hal mustahil bila negara kita bisa lepas dari beragam masalah sosial.

Gotong Royong Bangun Klinik dari Dana Wakaf

Hari itu Noni (10th) tengah berada di Klinik RBG Semarang. Dia tidak masuk sekolah karena demam. “Tadi pagi Noni meriang. Jadi saya menghubungi gurunya untuk minta izin supaya Noni bisa istrahat,” ungkap Ibunda Noni, Anna (51 th). Di Klinik RBG, Noni mendapatkan pemeriksaan kesehatan dari dokter umum. “Kamu Cuma kecapean. Jadi harus istirahat yang banyak,” ujar dr. Darwis, dokter umum di Klinik RBG Semarang.

Tak hanya Noni yang berhak memperoleh fasilitas kesehatan di RBG. Anna sang ibu dan juga dua kakak Noni juga bisa mendapatkan pengobatan gratis di klinik yang diresmikan pada 2015 tersebut. Sebab mereka berasal dari keluarga kurang mampu. “Alhamdulillah dokternya baik. Obat-obatannya juga cocok,” ungkap Anna.

Selengkapnya

DONASI WAKAF